Dikhianati itu sakit. Diduakan itu sakit. Apalagi ditigakan atau di empatkan, juga sakit. Disakiti pasangan, suami, istri, kekasih, dan sahabat itu sakit.
Tidak dalam waktu singkat saya memelajari “kesakitan-kesakitan penuh makna” semacam itu. Saya menyebutnya sebagai “kesakitan-kesakitan yang indah”. Sebab, penghayatan-penghayatan yang mendalam terhadap kejadian demi kejadian, menjadikan saya mengerti. Bahwa hidup tidak harus habis untuk urusan kebendaan, percintaan, dan berkasih-kasihan antara lelaki dan perempuan. Masih banyak tugas-tugas lain yang juga boleh dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Hampir setiap perempuan yang mengetahui suaminya memunyai perempuan lain, menderita kekhawatiran, lalu merespon dengan dahsyat. Jangan-jangan, suaminya (maaf) meniduri, berbagi kenikmatan sex, berbagi kehangatan tubuh dan berbagi isi dompet dengan perempuan lain.
Menulis kata “meniduri” dan “kenikmatan sex”, tidak begitu nyaman bagi saya. Tapi demi “tuntutan scenario/kelengkapan tulisan”, saya harus menulisnya.
“Pengkhianatan” macam itu memang menyakitkan, menjengkelkan, menggemaskan dan menyulut kedendaman. Dalam keadaan sangat marah, urusan kesakitan macam itu, sering mengalahkan perhatian seorang hamba kepada Tuhannya. Padahal dalam keadaan normal, janjinya, bakal mencintai Tuhannya lebih dari apapun dan siapapun. Untuk itulah dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh. Agar hati mencapai keadaan seimbang.
Ahh…mbak Ridha…, teorinya memang gampang! Namun, praktiknya tidak semudah membalik tangan!
Oh ya! Praktiknya memang tidak semudah membalik tangan! Saya belum pernah bilang ini sesuatu yang mudah. Ini sebuah “ketrampilan” yang perlu latihan.
Mungkin menangis sesaat adalah obat, tetapi jangan panik. Selalu tarik nafas panjang dan hembuskan pelan-pelan…tarik lagi dalam-dalam dan hembuskan pelan-pelan. Ini memang kegiatan latihan “tingkat tinggi”. Ia yang sanggup berlatih, akan sanggup menjaga keadaan dirinya tetap tenang, dan terjaga dalam keseimbangan. Lalu menyelesaikan dengan baik persoalan-persoalan yang perlu diselesaikan.
Mudah-mudahan pengalaman saya menginspirasi, bila terjadi sesuatu yang menyakiti diri.
Seperti yang lain, saya pun pernah dihadapkan pada prahara. Ketika tersadar mengapa saya bukan khawatir ditinggal oleh Yang Maha Setia, namun justru sibuk mengejar yang tidak bisa dipercaya, saya malu sendiri. Saya memperhatikan diri saya. Arah saya berjalan, berlari dan menuju, rupanya keliru.
Saya bukan lagi bertutur kepada Yang Maha Pengatur, mohon agar jalan saya diatur sedemikian rupa sehingga mudah saya ikuti dan jalani. Namun saya justru berlari jauh meninggalkanNya, lalu berfokus kepada mereka yang menyakiti saya. Padahal kesakitan-kesakitan macam itu, bisa saja sedang antre menunggu giliran di luar sana. Saya pikir, pasti saya akan kelelahan nantinya.
Saya segera putar balik. Berfokus kepada bagian-bagian penting pada kehidupan saya selanjutnya.
Kesakitan-kesakitan indah itu mengajarkan sesuatu yang sungguh bermakna. Akhirnya saya mengerti, bahwa ia yang menyakiti, sesungguhnya sedang mengajari saya tentang cinta, kemuliaan dan kesabaran hati. Berhenti mengejar dan meminta cinta dari orang yang sudah tidak mencinta, adalah pelajaran tentang CINTA (itu sendiri), KEMULIAAN dan KESABARAN HATI.
Sampailah pada suatu ketika, saat saya akhirnya, memberanikan diri mengirim pesan kepada pribadi yang pernah “menyakiti” saya.
“Salam. Semoga keadaan mas baik dan sehat. Sengaja kukirim ini untuk meminta maaf. Aku minta maaf atas kesalahan yang mungkin kulakukan tapi tidak sempat aku merasa berbuat salah. Aku pasti berkontribusi atas kejadian yang tidak membahagiakan waktu itu. Aku minta maaf… Aku juga ingin mengucapkan terima kasih atas “pelajaran-pelajaran indah” yang telah mas ajarkan padaku. Terima kasih banyak ya…! Pelajaran-pelajaran itu mendewasakanku. Jika “pelajaran-pelajaran” itu tidak mas ajarkan, mungkin aku tidak akan sampai di sini, seperti keadaanku yang sekarang. Salam.”
Dan ia, ternyata membalas pesan saya, demikian:
“Salam Arie, aku yang seharusnya meminta maafmu. Kamu perempuan hebat . Hatimu sangat mulia. Aku yakin kamu tangguh dan sanggup menjalani hidupmu dengan baik. Jaga dirimu baik-baik. Aku selalu mendoakanmu. Salam.”
Membaca pesannya, saya meneteskan air mata bahagia. Bukan karena ia memuji saya secara berlebihan. Tetapi lebih karena, saya akhirnya sanggup melunasi “hutang saya”, membersihkan hati dari segala yang kotor dan menyakiti. Saya, seperti tidak percaya mampu berdamai dengan diri saya. Juga berdamai dengan sosok yang saya nilai sebagai menyakiti saya, padahal sesungguhnya ia mengajarkan pelajaran-pelajaran penting bagi kehidupan saya selanjutnya. Saya, akhirnya mampu meruntuhkan ketinggian hati saya yang sempat saya pelihara bertahun-tahun. Dan ini membuat hidup saya, jauh lebih baik dari sebelumnya.
Jadi?
Disakiti memang sakit. Tapi kesakitan-kesakitan itu bermakna. Sebab kesakitan-kesakitan itu sesungguhnya membantu kita untuk belajar lebih banyak lagi hal-hal yang tidak biasa. Inilah salah satu faktor mengapa saya sangat tertarik memelajari hal-hal yang relevan dengan ketidakbahagiaan. Menjadi pemerhati masalah ketidakbahagiaan.
Kini saya mengerti bahwa, pelajaran-pelajaran sepanjang hidup, tidak mungkin diberikan Tuhan melalui para guru kehidupan, jika memang tidak ada relevansinya dengan kehidupan kita selanjutnya. ***
Terima kasih sudah membaca. Terima kasih Allah SWT. Terima kasih kepada semua yang menginspirasi. Salam bahagia dan terus berkarya!
Tuesday, February 4, 2014
KISAH SEORANG WANITA YANG DIHIANATI SUAMINYA
Dania adalah seorang wanita yang dari luar kehidupannya terlihat bahagia,tetapi ternyata menyimpan kesedihan.Dania menikah dngan Henri.Hendri bekerja di sebuah pabrik pupuk di Palembang.Henri mempunyai 4 orang adik.Dari keluarganya hanya Henrilah yang bisa menjadi Sarjana dan juga bisa mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus.4 Adik Henri,yaitu Anto,Ari,Sarah dan Hanum tidaklah seberuntung Henri.Mereka hidup kekurangan.Bahkan Anto dan Ari tidak mempuyai pekerjaan tetap.
Dania sendiri setelah menikah dengan Henri akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja.Padahal Dania sudah diterima bekerja di sebuah Bank milik pemerintah.Orangtua Dania sediri menyayangkan kenapa Dania harus berhenti bekerja.Karena sebenarnya Pak Gunawan dan Bu Dini sudah mengetahui bahwa Henri adalah tulang punggung keluarga.Kedua orangtua Dania sudah memperkirakan bahwa jika Dania berhenti bekerja maka akan timbul pertengkaran antara Dania dan Henri mengenai yang berujung pangkal pada masalah keuangan.
Anto dan Ari memang tidak segiat Henri.Henri sendiri bisa menyelesaikan kuliahnya dengan biaya sendiri.Henri yang rajin bekerja dan bermental kuat selau beurusaha untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.Sedangkan kedua adik laki-lakinya tidak mau berusaha.Mereka selalu meminta uang kepada Henri.
Setelah Dania dan Henri mempunyai dua orang anak,kebutuhan bertambah.uang sekolah,uang les dan lain-lainnya akhirnya selalu menjadi penyebab pertengkaran.Akhirnya Dania dan Henri membuka usaha rias pengantin.semakin banyak uang dibutuhkan apalagi setelah Doni dan Danti,kedua anak Dania kuliah,tentunya semakin banyak uang yang dibutuhkan.
Usaha rias pengantin memang maju,namun ternyata usaha itulah menjadi gangguan bagi rumah tangga Dania dan Henri.Proyek yang berdatangan berasal dari Fanti,seorang wanita cantik yang sebaya dengan Henri.Fanti sudah tidak mempunyai suami karena suaminya meninggal dunia.Ternyata Fanti yang merupakan seorang yang cukup berpengaruh di pabrik pupuk tempat Henri bekerja mempunyai maksud tersembunyi.Fanti menyukai Henri.Fanti berusaha untuk selalu berusaha menarik perhatian Henri.Dania sendiri bisa mengetahui maksud Fanti.Dan ternyata Henri memang terjebak.Henri menjalin hubungan dengan Fanti.Dania yang introvert tidak bisa melawan.Dania hanya bisa bersedih.
Dania akhirnya tidak lagi mengurus usaha rias pengantinnya.Karena frustrasi,Dania lebih banyak tinggal bersama kedua anaknya di Yogyakarta.Selain itu Dania ikut bepergian bersama kakak tertuanya.Dania pergi umroh,ke Sinagapura dan Thailand.Ternyata diketahui Henri tidak pernah lagi memberikan uang pada Dania.Tetapi herannya jika Dania ingin bepergian,Henri mau membiayainya.Akhirnya Dania menyuruh Danti untuk meminta uang pada ayahnya.Henri memang selalu menuruti apapun permintaan kedua anaknya.Dantilah yang meminta uang kepada Henri.Lalu Dantilah yang memberikan uang yang berasal dari Henri kepada Dania.
Semoga ada jalan keluar bagi persoalan yang dihadapi oleh Dania.
Dania sendiri setelah menikah dengan Henri akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja.Padahal Dania sudah diterima bekerja di sebuah Bank milik pemerintah.Orangtua Dania sediri menyayangkan kenapa Dania harus berhenti bekerja.Karena sebenarnya Pak Gunawan dan Bu Dini sudah mengetahui bahwa Henri adalah tulang punggung keluarga.Kedua orangtua Dania sudah memperkirakan bahwa jika Dania berhenti bekerja maka akan timbul pertengkaran antara Dania dan Henri mengenai yang berujung pangkal pada masalah keuangan.
Anto dan Ari memang tidak segiat Henri.Henri sendiri bisa menyelesaikan kuliahnya dengan biaya sendiri.Henri yang rajin bekerja dan bermental kuat selau beurusaha untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.Sedangkan kedua adik laki-lakinya tidak mau berusaha.Mereka selalu meminta uang kepada Henri.
Setelah Dania dan Henri mempunyai dua orang anak,kebutuhan bertambah.uang sekolah,uang les dan lain-lainnya akhirnya selalu menjadi penyebab pertengkaran.Akhirnya Dania dan Henri membuka usaha rias pengantin.semakin banyak uang dibutuhkan apalagi setelah Doni dan Danti,kedua anak Dania kuliah,tentunya semakin banyak uang yang dibutuhkan.
Usaha rias pengantin memang maju,namun ternyata usaha itulah menjadi gangguan bagi rumah tangga Dania dan Henri.Proyek yang berdatangan berasal dari Fanti,seorang wanita cantik yang sebaya dengan Henri.Fanti sudah tidak mempunyai suami karena suaminya meninggal dunia.Ternyata Fanti yang merupakan seorang yang cukup berpengaruh di pabrik pupuk tempat Henri bekerja mempunyai maksud tersembunyi.Fanti menyukai Henri.Fanti berusaha untuk selalu berusaha menarik perhatian Henri.Dania sendiri bisa mengetahui maksud Fanti.Dan ternyata Henri memang terjebak.Henri menjalin hubungan dengan Fanti.Dania yang introvert tidak bisa melawan.Dania hanya bisa bersedih.
Dania akhirnya tidak lagi mengurus usaha rias pengantinnya.Karena frustrasi,Dania lebih banyak tinggal bersama kedua anaknya di Yogyakarta.Selain itu Dania ikut bepergian bersama kakak tertuanya.Dania pergi umroh,ke Sinagapura dan Thailand.Ternyata diketahui Henri tidak pernah lagi memberikan uang pada Dania.Tetapi herannya jika Dania ingin bepergian,Henri mau membiayainya.Akhirnya Dania menyuruh Danti untuk meminta uang pada ayahnya.Henri memang selalu menuruti apapun permintaan kedua anaknya.Dantilah yang meminta uang kepada Henri.Lalu Dantilah yang memberikan uang yang berasal dari Henri kepada Dania.
Semoga ada jalan keluar bagi persoalan yang dihadapi oleh Dania.
Sunday, February 2, 2014
LINGKARAN CAHAYA
Sungguh keimanan manusia selalu dalam keadaan turun naik.
Pernah aku meragukan jalan yang telah ku pilih ini. Ya, barangkali ini adalah juga jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang saleh yang telah mendahului aku, dan kita semua.
***
Kala itu sore hari. Matahari sudah hampir mendekati peraduannya. Tiba-tiba pertanyaan yang janggal keluar dari mulutku terhadap seoarng teman mengenai Lingkaran cahaya di jalan ini.
“kamu pernah gak sih merasa…” kataku terbata-bata, tak berani menyambung kata-kataku.
“merasa apa?” katanya kepadaku dengan nada penasaran.
“begini. Maksudku pernahkah engkau merasa bahwa berada di lingkaran cahaya ini hanyalah sebuah kesiasiaan? Ya, Aku pernah merasa bahwa ada dan tiadapun aku di lingkaran ini tak bakalan mempengaruhi sedikitpun kadar keimananku.” Kataku menjawab penasarannya. Astaghfirullah. Tiba-tiba aku merasa malu dengan diriku akan kata-kata yang barusan ku lontarkan. Malu bahwa dengan kata-kataku tadi telah memberikan kesan akan diriku yang begitu sempurna, dari khilaf. Astaghfirullah.
Kemudian sang teman tersebut memberikan sebuah pandangan kepadaku.
“ya, akupun juga pernah berfikiran sama denganmu. Akupun juga pernah merasa bahwa keberadaanku di lingkaran cahaya ini hanyalah sebuah kesia-siaan.” Jawabnya membenarkan pernyataanku. Akupun hanya menanggapi dengan diam, Kemudian diapun melanjutkan perkataannya.
“Tapi, sejauh mana kau mampu merasa baik tanpa berada pada lingkaran cahaya ini? Perlu kau garis bawahi bahwa lingkaran ini bukanlah satu-satunya sarana untuk membuat kepalamu berisi akan ilmu-ilmuNya, membuat keimananmu bertambah terhadapNya. Namun, jika memang kau mampu bercahaya dengan terang benderang diluar lingkaran ini, maka hanya kaulah yang akan menikmati terangnya cahayamu itu. Lain halnya jikalau kau bercahaya dilingkaran ini, maka cahayamu akan menerangi segenap orang-orang di sekelilingmu.” Begitu bersemangat dia memberikan gambaran kepadaku akan esensi lingkaran ini.
***
Teman, aku pernah meragukan jalan yang pernah ku pilih. Akupun pernah dengan sombong mengatakan bahwa ada dan tiadanya lingkaran ini tak sedikitpun mampu memberikan pengaruh terhadap keimananku. Ah… sungguh masih terdapat sifat sombong pada diri ini. Beraninya aku dengan tersirat menyatakan bahwa diriku sudah cukup baik melalui kata-kataku itu. Namun kini ku tahu bahwa terang itu bukanlah untuk diri sendiri. Lingkaran iniku menyebutnya dengan lingkaran cahaya karena setiap orang yang berada di lingkaran ini memiliki peran untuk saling menerangi setiap orang yang berada di lingkaran ini.
Ah… betapa manisnya ukhuwah. Bukankah saling menerangi satu sama lain itu lebih baik daripada hanya menerangi diri sendiri?
Pernah aku meragukan jalan yang telah ku pilih ini. Ya, barangkali ini adalah juga jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang saleh yang telah mendahului aku, dan kita semua.
***
Kala itu sore hari. Matahari sudah hampir mendekati peraduannya. Tiba-tiba pertanyaan yang janggal keluar dari mulutku terhadap seoarng teman mengenai Lingkaran cahaya di jalan ini.
“kamu pernah gak sih merasa…” kataku terbata-bata, tak berani menyambung kata-kataku.
“merasa apa?” katanya kepadaku dengan nada penasaran.
“begini. Maksudku pernahkah engkau merasa bahwa berada di lingkaran cahaya ini hanyalah sebuah kesiasiaan? Ya, Aku pernah merasa bahwa ada dan tiadapun aku di lingkaran ini tak bakalan mempengaruhi sedikitpun kadar keimananku.” Kataku menjawab penasarannya. Astaghfirullah. Tiba-tiba aku merasa malu dengan diriku akan kata-kata yang barusan ku lontarkan. Malu bahwa dengan kata-kataku tadi telah memberikan kesan akan diriku yang begitu sempurna, dari khilaf. Astaghfirullah.
Kemudian sang teman tersebut memberikan sebuah pandangan kepadaku.
“ya, akupun juga pernah berfikiran sama denganmu. Akupun juga pernah merasa bahwa keberadaanku di lingkaran cahaya ini hanyalah sebuah kesia-siaan.” Jawabnya membenarkan pernyataanku. Akupun hanya menanggapi dengan diam, Kemudian diapun melanjutkan perkataannya.
“Tapi, sejauh mana kau mampu merasa baik tanpa berada pada lingkaran cahaya ini? Perlu kau garis bawahi bahwa lingkaran ini bukanlah satu-satunya sarana untuk membuat kepalamu berisi akan ilmu-ilmuNya, membuat keimananmu bertambah terhadapNya. Namun, jika memang kau mampu bercahaya dengan terang benderang diluar lingkaran ini, maka hanya kaulah yang akan menikmati terangnya cahayamu itu. Lain halnya jikalau kau bercahaya dilingkaran ini, maka cahayamu akan menerangi segenap orang-orang di sekelilingmu.” Begitu bersemangat dia memberikan gambaran kepadaku akan esensi lingkaran ini.
***
Teman, aku pernah meragukan jalan yang pernah ku pilih. Akupun pernah dengan sombong mengatakan bahwa ada dan tiadanya lingkaran ini tak sedikitpun mampu memberikan pengaruh terhadap keimananku. Ah… sungguh masih terdapat sifat sombong pada diri ini. Beraninya aku dengan tersirat menyatakan bahwa diriku sudah cukup baik melalui kata-kataku itu. Namun kini ku tahu bahwa terang itu bukanlah untuk diri sendiri. Lingkaran iniku menyebutnya dengan lingkaran cahaya karena setiap orang yang berada di lingkaran ini memiliki peran untuk saling menerangi setiap orang yang berada di lingkaran ini.
Ah… betapa manisnya ukhuwah. Bukankah saling menerangi satu sama lain itu lebih baik daripada hanya menerangi diri sendiri?
Sudah Mapankah?? (aku)
Well guys… apa kabar??
Hm… ceritaku ini berawal dari deringan handphoneku di pagi hari. Ternyata seorang teman ingin meminta saranku mengenai “kegalauan”nya dalam mengambil sebuah keputusan.
Begini redaksi seorang teman tersebut kepadaku yang menanyakan tentang “kriteria mapan dalam berumah tangga,” menurutmu seperti apa sih kriteria mapan dalam berumah tangga?
Bagiku yang masih single tentunya pertanyaan ini bagaikan sebuah cekikan di leherku. Tapi karena ini adalah sebuah permintaan darinya maka aku berusaha menjawab sebisaku. Menjawab sesuai dengan pemahamanku.
Oke teman, menurutku begini. Mapan itu bukanlah diartikan dari seberapa besar jumlah penghasilan per bulanmu. Mungkin begini, ketika kau telah menemukan seseorang yang menurutmu pantas menjadi pendamping hidupmu dan hatimupun berkata telah siap untuk mendayungi bahtera rumah tangga bersama dirinya. Why not?? Kau bisa mempersuntingnya. Dan tentunya hatimu telahmerasa mantap setelah meminta petunjuk kepadaNya dalam shalat istikarahmu.
Namun, jika kau tanyakan lagi kepadaku, mapan fersiku itu bagaimana? Maka kan ku jawab bahwa mapan menurutku itu terbagi dua: mapan secara finansial dan mapan secara batin. Kalau kau rasa kau telah mapan di kedua point tersebut why not, sekali lagi kau layak mempersuntingnya.
***
Well, aku pernah membaca tulisan seseorang “aku lupa sumbernya” darimana. Redaksinya lebih kurang begini. Ada sebahagian orang yang memilih menikah dengan menggunakan “gigi satu”. “Gigi satu” disini maksudnya secara financial penghasilan mereka masih pas-pasan untuk memenuhi biaaya hidup mereka. Tapi mereka yakin bahwa menikah adalah sunnah Rasulullah, maka mereka penuhi hal itu dengan cara tidak menunda-nunda menikah. Nah… teman, mereka yang memulai rumah tangga mereka dari gigi satupun bisa membangun cinta mereka ditengah segala kecukupan yang mereka miliki. So, intinya hanyalah keyakinan. Tak ada salahnya dengan mereka yang memilih menikah dengan “gigi satu”. Bukankah menikah itu menyempurnakan separuh agama?
Nah,ada pula sebahagian orang memilih menikah denganmenggunakan “gigi empat”. Golongan yang ini memilih merasa siap untuk menikah seteleh mereka merasa benar-benar telah mantap secara finansial. Barangkali mereka sudah menemukan pekerjaan yang tetap dan penghasilan yang lumayan besar untuk mendayungi bahtera rumah tangga mereka. Tentunya juga tidak ada salahnya dengan pilihan mereka ini teman. Dengan “gigi empat” mereka bisa mendayungi bahtera mereka dengan mulus, tanpa adana kemandegan dari segi finansial. Sisi finansialpun ternyata juga bisa mempengaruhi keharmonisan rumah tangga.
Ya… itu hanyalah lebih kurang penjelasan ku kepada seorang yang meminta peretimbanganku akan kriteria mapan dalam berumah tangga. Selanjutnya keputusan tentu berada ditangannya.
Hm… ceritaku ini berawal dari deringan handphoneku di pagi hari. Ternyata seorang teman ingin meminta saranku mengenai “kegalauan”nya dalam mengambil sebuah keputusan.
Begini redaksi seorang teman tersebut kepadaku yang menanyakan tentang “kriteria mapan dalam berumah tangga,” menurutmu seperti apa sih kriteria mapan dalam berumah tangga?
Bagiku yang masih single tentunya pertanyaan ini bagaikan sebuah cekikan di leherku. Tapi karena ini adalah sebuah permintaan darinya maka aku berusaha menjawab sebisaku. Menjawab sesuai dengan pemahamanku.
Oke teman, menurutku begini. Mapan itu bukanlah diartikan dari seberapa besar jumlah penghasilan per bulanmu. Mungkin begini, ketika kau telah menemukan seseorang yang menurutmu pantas menjadi pendamping hidupmu dan hatimupun berkata telah siap untuk mendayungi bahtera rumah tangga bersama dirinya. Why not?? Kau bisa mempersuntingnya. Dan tentunya hatimu telahmerasa mantap setelah meminta petunjuk kepadaNya dalam shalat istikarahmu.
Namun, jika kau tanyakan lagi kepadaku, mapan fersiku itu bagaimana? Maka kan ku jawab bahwa mapan menurutku itu terbagi dua: mapan secara finansial dan mapan secara batin. Kalau kau rasa kau telah mapan di kedua point tersebut why not, sekali lagi kau layak mempersuntingnya.
***
Well, aku pernah membaca tulisan seseorang “aku lupa sumbernya” darimana. Redaksinya lebih kurang begini. Ada sebahagian orang yang memilih menikah dengan menggunakan “gigi satu”. “Gigi satu” disini maksudnya secara financial penghasilan mereka masih pas-pasan untuk memenuhi biaaya hidup mereka. Tapi mereka yakin bahwa menikah adalah sunnah Rasulullah, maka mereka penuhi hal itu dengan cara tidak menunda-nunda menikah. Nah… teman, mereka yang memulai rumah tangga mereka dari gigi satupun bisa membangun cinta mereka ditengah segala kecukupan yang mereka miliki. So, intinya hanyalah keyakinan. Tak ada salahnya dengan mereka yang memilih menikah dengan “gigi satu”. Bukankah menikah itu menyempurnakan separuh agama?
Nah,ada pula sebahagian orang memilih menikah denganmenggunakan “gigi empat”. Golongan yang ini memilih merasa siap untuk menikah seteleh mereka merasa benar-benar telah mantap secara finansial. Barangkali mereka sudah menemukan pekerjaan yang tetap dan penghasilan yang lumayan besar untuk mendayungi bahtera rumah tangga mereka. Tentunya juga tidak ada salahnya dengan pilihan mereka ini teman. Dengan “gigi empat” mereka bisa mendayungi bahtera mereka dengan mulus, tanpa adana kemandegan dari segi finansial. Sisi finansialpun ternyata juga bisa mempengaruhi keharmonisan rumah tangga.
Ya… itu hanyalah lebih kurang penjelasan ku kepada seorang yang meminta peretimbanganku akan kriteria mapan dalam berumah tangga. Selanjutnya keputusan tentu berada ditangannya.
Masalahkah Jika Aku Berbeda?
Tidak ada satupun orang dimuka bumi ini diciptakan dengan segala kekurangan tanpa kelebihan. Tidak ada teman. Percayalah, masing-masing kita memiliki kelebihan.
Dulu, ketika masih SMA, aku pernah berfikir bahwa aku adalah makhluk Tuhan yang paling bodoh karena tidak memiliki sedikitpun potensi untuk dibanggakan. Bagaimana tidak, dibandingkan dengan kedua kakakku, aku adalah anak satu-satunya di keluargaku yang selalu mendapakan angka merah di rapor untuk mata pelajaran IPA yaitu Fisika dan Kimia. Lain halnya dengan kedua kakaku yang selalu membanggakan kedua orang tuaku dengan prsetasi yang mereka raih. Bang Rahmat si jago Fisika dan dan Kak Ratna si jago Kimia selalu menjuarai olimpiade sampai tingkat Nasional. Satu lemari sudah takcukup untuk menampung segala medali dan trophy yang mereka peroleh dari even-even perlombaan.
Sementara aku hanya menyumbangkan dua buah piala saja. Itupun dalam lomba baca puisi dan menulis cerpen tingkat provinsi. Kedua piala itupun tak bisa membuat kedua orang tuaku bangga padaku. Karena ayahku yang lulusan ITB itu menginginkan anak-anaknya melanjutkan langkahnya.
Masih ku ingat pembicaraanku dengan kak Ratna di ruang tamu tiga tahun silam. Ya, masih dengan tema membujukku untuk belajar dengan giat tekun agar aku menyukai Fisika dan Kima. Sehingga bisa membanggakan orang tua kami seperti yang telah dia dan bang Rahmat lakukan.
“Dik, aku lulus di ITB. Bulan depan aku harus sudah berada Bandung.” Kata kak Ratna berusaha membuka pembicaraan waktu itu. Ketika aku tengah sibuknya dengan designan mading sekolah.
“Trus, apa hubungannya dengaku?” Jawabku datar.
“Kamu tau gak sih, betapa bangganya Papa ketika aku lulus di ITB?.” Imbuhnya lagi.
“Trus, aku juga harus berbangga gitu dengan kelulusan kakak di ITB?” jawabku dengan nada yang agak meninggi karena kesal dengan pembicaraan kakakku yang sudah ku tahu kemana arahnya.
“Begini dik.” Kakakku bersuaha untuk tenang melanjutkan pembicaraannya. Ya, adik adalah panggilan anggota keluarga kepadaku karena statusku sebagai anak bungsu di kelaurga.
Aku hanya diam. Pertanda aku sudah mulai kesal.
“Aku dan Bang Rahmat sudah mewujudkan mimpi Papa untuk sekolah di ITB dengan jurusan yang kami gemari.”
Aku hanya diam mendengar pembicaraan kakaku itu.
“Sekarang tinggal kamu satu-satunya yang bakalan mewujudkan mimpi Papa. Kamu suka sastra. Boleh kok. Tak ada yang melarang. Tapi kamu tahu kan betapa Papa menginginkan semua anak nya sukses di bidang SAINS. Kamu juga tahukan kalau Papa itu adalah lulusan terbaik di zamannya dulu. Tentunya dia juga berkeinginan anaknya seperti itu.”
Telingaku makin panas dan dadaku makin sesak menahan amarah pada nasehat-nasehat kakak ku itu. Aku pun tak bisa bertahan lama mendengarkan ceramahannya itu. Ku bantingkan gunting yang sedari tadi ku pegang. Ku biarkan kertas-kertas mading berserakan di atas meja. Siapa peduli. Ku langkahkan kakiku ke kamar meninggalkannya.
“Mia, buka pintunya.” Kak Ratna mengetuk pintu dari luar berusaha membujukku mendengarkan nasehatnya.
Apa peduliku. Tak sepatah pun kata ku ucapkan. Biarlah dia bosan menunggu. Barangkali sudah sepuluh menit di berdiri di balik pintu menungguku yang melunak membukakkan pintu untuknya. Tampaknya dia sudah mulai bosan. Kemudain meninggalkanku sendirian di kamar.
***
Haruskah aku mengikutikeinginan Papaku untu mengikuti kedua saudaraku? Bagaimana mungkin mereka bisa memaksa ku memilih jurusan yang tak ku inginkan. Aku. Jiwaku bukanlah di dibadng SAINS. Aku suka puisi, aku suka menulis, aku suka hal-hal yang berbau dengan sasatra. Aku menemukan jati diriku di sini. Sastra telah mendarah daging di jiwaku. Lantas apakah aku juga harus mengubur dalam-dalam jiwaku dan hidup dengan jiwa baru yang sama sekali tidakku sukai? Akankah aku menemukan ketenangan dengan memilih jiwa yang baru baru itu? Andaikan saja orangtuaku memahami akan diriku. Tidak semua orang terlahir dengan bakat dan kempintaran yang sama. Papaku adalah lulusan ITB, begitu juga dengan kedua kakaku yang melanjutkan jejajk papa dengan berkuliah di ITB. Semua anggota keluargaku seprtinya telah di anugerahkan dengan kecerdasan dibidang SAINS. Sementara aku,tak satupun kepintaran mereka ku tularkan. Aku adalah kutub magnet yang berlawanan dengan mereka. Aku cinta sastra. Aku menemukan jati diriku di sini.
***
Sudah seminggu kakaku di Bandung. Sekarang yang tinggal di rumah hanyalah aku serta Mama-Papa. Tak ada yang berubah dariku. Sekarang aku sudah kelas dua SMA jurusan IPA. Apa boleh buat Papaku meninginkan ku berada di jurusan IPA. Walaupun di tes IQ aku layaknya di tempatkan di Bahasa. Ya, apa boleh buat. Di sekolahku yang hanya ada dua jrusan waktu itu yaitu IPA dan IPS. Maka Papa pun menyarankanku masuk kelas IPA. Toh katanya niali IPA ku tak terlalu jelek. Hanya butuh belajar dengan rajin untuk mengasak kecerdasanku dibidang IPA.
Apa boleh buat, nampaknya aku tak bisa menentang keinginan Papa. Walaupun aku berada di jurusan IPA, bakat sastrakupun tak pernah mati. Akupun semakin eksis mengikuti perlombaan menulis, puisi dan teater. Setidaknya akupun merasa nyaman berda di jurusan IPA untuk mengembangkan bakatku. Karena tidak ada lagi Papa yang tiap hari nyinyir mengningatkanku rajin belajar biar dapat kelas IPA seperti yang di laukukanoleh Papa ketika aku kelas satu dulu.
Hingga waktu SNMPTN pun aku diam-diam mengambil paket IPC. Ini semua tentu di luar pengetahuan Papa kalau aku mengambil paket IPC. Memang, ku ikuti saran Papa. Pilihan satu dan dua ku amil di ITB. Sedangkan diam-diam, pilihan ketiga ku pilih sastra Inggris UI.
Tepat satu bulan, pengumuman hasil SNMPTN dimumkan di Koran. Betapa terkejutnya papaku melihat namaku terpampang dengan manis lulus di jurusan sastra Indonesia UI. Papaku geram karena aku diam-diam mengambil formulir IPC.
Ya, sudah. Akupun semkin tidak peduli dengan kemarahan Papa. Bagaimana mungkin aku kuliah di jurusan yang sama sekali tidak aku minati. Papa berjanji gak bakalan bayar uang daftar ulangku sebagai bukti kegeramannya. Begitupun denganku. Akupun hanya mengurung diri dikamar selama seminggu. Orangtuakupun semakin khawatir akan diriku. Akhirnya papapun mengalah. Papa menabulkan kinginnanku untuk kuliah di UI dengan jurusan sastar Indonesia dengan syarat satu tahunpertama au harus membuktikan prestasiku dengan IP sempurna.
Setahunpun sudah berlaulu semenjak aku berda di UI. Janji papa untuk mendapatkan IP sempurna telah ku penuhi. Kini tidak ada lagi papa yang marah-marah menyruhku untuk memilih jurusan SAINS. Karena memang bakatku bukan disana. Aku menemukan diriku disini. Di jurusan yang aku cintai.
Semester depan aku bakalan berda di Amerika untuk setahun kedepan sebagai mahasiswa undangan belajar dan mengajar sastra. Pada program itu aku diberikan kesempatan untuk menimba ilmu di negeri paman sam itu dan mengajarkan ilmu mengenai sastra Indonsia.
Dulu, ketika masih SMA, aku pernah berfikir bahwa aku adalah makhluk Tuhan yang paling bodoh karena tidak memiliki sedikitpun potensi untuk dibanggakan. Bagaimana tidak, dibandingkan dengan kedua kakakku, aku adalah anak satu-satunya di keluargaku yang selalu mendapakan angka merah di rapor untuk mata pelajaran IPA yaitu Fisika dan Kimia. Lain halnya dengan kedua kakaku yang selalu membanggakan kedua orang tuaku dengan prsetasi yang mereka raih. Bang Rahmat si jago Fisika dan dan Kak Ratna si jago Kimia selalu menjuarai olimpiade sampai tingkat Nasional. Satu lemari sudah takcukup untuk menampung segala medali dan trophy yang mereka peroleh dari even-even perlombaan.
Sementara aku hanya menyumbangkan dua buah piala saja. Itupun dalam lomba baca puisi dan menulis cerpen tingkat provinsi. Kedua piala itupun tak bisa membuat kedua orang tuaku bangga padaku. Karena ayahku yang lulusan ITB itu menginginkan anak-anaknya melanjutkan langkahnya.
Masih ku ingat pembicaraanku dengan kak Ratna di ruang tamu tiga tahun silam. Ya, masih dengan tema membujukku untuk belajar dengan giat tekun agar aku menyukai Fisika dan Kima. Sehingga bisa membanggakan orang tua kami seperti yang telah dia dan bang Rahmat lakukan.
“Dik, aku lulus di ITB. Bulan depan aku harus sudah berada Bandung.” Kata kak Ratna berusaha membuka pembicaraan waktu itu. Ketika aku tengah sibuknya dengan designan mading sekolah.
“Trus, apa hubungannya dengaku?” Jawabku datar.
“Kamu tau gak sih, betapa bangganya Papa ketika aku lulus di ITB?.” Imbuhnya lagi.
“Trus, aku juga harus berbangga gitu dengan kelulusan kakak di ITB?” jawabku dengan nada yang agak meninggi karena kesal dengan pembicaraan kakakku yang sudah ku tahu kemana arahnya.
“Begini dik.” Kakakku bersuaha untuk tenang melanjutkan pembicaraannya. Ya, adik adalah panggilan anggota keluarga kepadaku karena statusku sebagai anak bungsu di kelaurga.
Aku hanya diam. Pertanda aku sudah mulai kesal.
“Aku dan Bang Rahmat sudah mewujudkan mimpi Papa untuk sekolah di ITB dengan jurusan yang kami gemari.”
Aku hanya diam mendengar pembicaraan kakaku itu.
“Sekarang tinggal kamu satu-satunya yang bakalan mewujudkan mimpi Papa. Kamu suka sastra. Boleh kok. Tak ada yang melarang. Tapi kamu tahu kan betapa Papa menginginkan semua anak nya sukses di bidang SAINS. Kamu juga tahukan kalau Papa itu adalah lulusan terbaik di zamannya dulu. Tentunya dia juga berkeinginan anaknya seperti itu.”
Telingaku makin panas dan dadaku makin sesak menahan amarah pada nasehat-nasehat kakak ku itu. Aku pun tak bisa bertahan lama mendengarkan ceramahannya itu. Ku bantingkan gunting yang sedari tadi ku pegang. Ku biarkan kertas-kertas mading berserakan di atas meja. Siapa peduli. Ku langkahkan kakiku ke kamar meninggalkannya.
“Mia, buka pintunya.” Kak Ratna mengetuk pintu dari luar berusaha membujukku mendengarkan nasehatnya.
Apa peduliku. Tak sepatah pun kata ku ucapkan. Biarlah dia bosan menunggu. Barangkali sudah sepuluh menit di berdiri di balik pintu menungguku yang melunak membukakkan pintu untuknya. Tampaknya dia sudah mulai bosan. Kemudain meninggalkanku sendirian di kamar.
***
Haruskah aku mengikutikeinginan Papaku untu mengikuti kedua saudaraku? Bagaimana mungkin mereka bisa memaksa ku memilih jurusan yang tak ku inginkan. Aku. Jiwaku bukanlah di dibadng SAINS. Aku suka puisi, aku suka menulis, aku suka hal-hal yang berbau dengan sasatra. Aku menemukan jati diriku di sini. Sastra telah mendarah daging di jiwaku. Lantas apakah aku juga harus mengubur dalam-dalam jiwaku dan hidup dengan jiwa baru yang sama sekali tidakku sukai? Akankah aku menemukan ketenangan dengan memilih jiwa yang baru baru itu? Andaikan saja orangtuaku memahami akan diriku. Tidak semua orang terlahir dengan bakat dan kempintaran yang sama. Papaku adalah lulusan ITB, begitu juga dengan kedua kakaku yang melanjutkan jejajk papa dengan berkuliah di ITB. Semua anggota keluargaku seprtinya telah di anugerahkan dengan kecerdasan dibidang SAINS. Sementara aku,tak satupun kepintaran mereka ku tularkan. Aku adalah kutub magnet yang berlawanan dengan mereka. Aku cinta sastra. Aku menemukan jati diriku di sini.
***
Sudah seminggu kakaku di Bandung. Sekarang yang tinggal di rumah hanyalah aku serta Mama-Papa. Tak ada yang berubah dariku. Sekarang aku sudah kelas dua SMA jurusan IPA. Apa boleh buat Papaku meninginkan ku berada di jurusan IPA. Walaupun di tes IQ aku layaknya di tempatkan di Bahasa. Ya, apa boleh buat. Di sekolahku yang hanya ada dua jrusan waktu itu yaitu IPA dan IPS. Maka Papa pun menyarankanku masuk kelas IPA. Toh katanya niali IPA ku tak terlalu jelek. Hanya butuh belajar dengan rajin untuk mengasak kecerdasanku dibidang IPA.
Apa boleh buat, nampaknya aku tak bisa menentang keinginan Papa. Walaupun aku berada di jurusan IPA, bakat sastrakupun tak pernah mati. Akupun semakin eksis mengikuti perlombaan menulis, puisi dan teater. Setidaknya akupun merasa nyaman berda di jurusan IPA untuk mengembangkan bakatku. Karena tidak ada lagi Papa yang tiap hari nyinyir mengningatkanku rajin belajar biar dapat kelas IPA seperti yang di laukukanoleh Papa ketika aku kelas satu dulu.
Hingga waktu SNMPTN pun aku diam-diam mengambil paket IPC. Ini semua tentu di luar pengetahuan Papa kalau aku mengambil paket IPC. Memang, ku ikuti saran Papa. Pilihan satu dan dua ku amil di ITB. Sedangkan diam-diam, pilihan ketiga ku pilih sastra Inggris UI.
Tepat satu bulan, pengumuman hasil SNMPTN dimumkan di Koran. Betapa terkejutnya papaku melihat namaku terpampang dengan manis lulus di jurusan sastra Indonesia UI. Papaku geram karena aku diam-diam mengambil formulir IPC.
Ya, sudah. Akupun semkin tidak peduli dengan kemarahan Papa. Bagaimana mungkin aku kuliah di jurusan yang sama sekali tidak aku minati. Papa berjanji gak bakalan bayar uang daftar ulangku sebagai bukti kegeramannya. Begitupun denganku. Akupun hanya mengurung diri dikamar selama seminggu. Orangtuakupun semakin khawatir akan diriku. Akhirnya papapun mengalah. Papa menabulkan kinginnanku untuk kuliah di UI dengan jurusan sastar Indonesia dengan syarat satu tahunpertama au harus membuktikan prestasiku dengan IP sempurna.
Setahunpun sudah berlaulu semenjak aku berda di UI. Janji papa untuk mendapatkan IP sempurna telah ku penuhi. Kini tidak ada lagi papa yang marah-marah menyruhku untuk memilih jurusan SAINS. Karena memang bakatku bukan disana. Aku menemukan diriku disini. Di jurusan yang aku cintai.
Semester depan aku bakalan berda di Amerika untuk setahun kedepan sebagai mahasiswa undangan belajar dan mengajar sastra. Pada program itu aku diberikan kesempatan untuk menimba ilmu di negeri paman sam itu dan mengajarkan ilmu mengenai sastra Indonsia.
Jangan Mainkan Perasaan Orang Lain
Aku berniat menghadiri walimahan (pernikahan) salah satu guru kesayanganku. Pastilah, aku pengen memberikan hadiah terbaik untuk guru yang namanya tertulis di kertasku ketika aku disuruh menuliskan nama guru yang paling aku gemari. Memang sih, guruku itu adalah seorang pembuat aturan-aturan yang berlaku di SMPIP Baitul Maal, yang katanya, sekolahku itu terkenal dengan aturan ketatnya itu. Tapi, tak ada alasan kan untuk mengidolakannya?
Aku begitu semangat dan merelakan segalanya untuk bisa hadir, walau hanya ke acara resepsinya. Waktu itu, aku dapat informasi bahwa untuk hadiah pernikahan guruku itu, dibeli secara patungan. Kalau secara patungan, tentu hadiah itu atas nama bersama. Terutama yang disuruh patungan, yaitu seluruh anak kelas 8B. Aku dapat jarkoman itu berupa SMS. Lucunya, aku dapat 3 kali SMS yang sama. Well, oke oke.
Aku sudah bawa uang dengan nominal yang diinginkan. Aku juga berangkat bersama rombongan anak kelas 8B kecuali Asma, Dina, Salsa, dan Dea. Aku datang terlambat, karena aku kesulitan menentukan dress. Dari kejauhan, aku sudah melihat mereka yang menunggu sambil membawa plastik besar berisikan kado yang dibalut dengan bungkus kado yang manis.
Begitu dapat angkot, aku pun langsung menyerahkan uang patungan seperti yang disuruh. Kan nggak enak pake uang orang untuk nutupin hutang aku. Langsung deh aku tanya yang lain, ke siapa seharusnya aku bayar. Aku tanya Nurul, malah lempar ke yang lain. Daritadi lempar-lemparan aja. Akhirnya sampailah pada Alifa. Aku udah mau ngasih uangnya, tapi malah ditolak. Wah nih anak banyak uang kali ya, baik bener. Tapi aku tetep nggak enak, bagaimana pun juga itu adalah guru kesayanganku, harus ada pengorbanan. "Ih yang bener aja! Ini!" sambil menyerahkan uang. Tapi tetep aja ditolak. "Udah, uni nisa nggak usah kok". Akhirnya aku mengalah. Tapi hati berat juga. Aku mikir terus menerus, nggak enak.
Nggak lama setelah mereka mulai dengan sesi foto-foto di angkot, ada yang inisiatif fotoin kartu ucapan yang tertempel di kado yang ukurannya besar itu. Dengan penasaran, aku baca kartu itu. Kata-kata yang ditulis memang keren, tapi...
Parah.
Aku syok parah menyadari bahwa namaku nggak tercantum disitu. Gila, seketika aku mau nangis sejadi-jadinya. Kejam sangat. Parah parah parah. Gak nentu detak jantungku saat itu juga. Bener deh, bukannya bombastis, tapi saat itu juga organ aku nggak mengizinkan aku bicara. Mulut tuh kayak udah terkatup rapat, tenggorokan kayak kering, dan sepertinya tenagaku udah habis total dihisap entah kemana. Aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Parah. Speechless. Diem dan lemes banget. Sedangkan yang lain ketawa-ketawi sampai bapak-bapak dengan bringasnya negur mereka karena terlalu berisik.
Aku berusaha bersikap biasa saja, padahal sesungguhnya aku benar-benar mau memuntahkan segala amarahku seketika itu juga.
Sesampainya di lokasi, rombonganku menyerahkan kado besar yang istimewa itu kepada panitia. Kado yang di dalamnya tidak ada namaku. Tidak ada diriku, cintaku. Aku memandanginya kosong, menahan segala kemungkinan yang terjadi padaku. Menahan dan kemudian berbalik, sebagai pertanda aku harus mulai berusaha baik-baik saja.
Terkejut dan marah bukan main saat orang tuaku mengetahui bahwa uang yang aku bawa untuk patungan masih utuh karena alasan tersebut. Orang tuaku sama sekali tidak menyangka, begitu juga aku. Aku tak tahu bagaimana nantinya. Kalau dipikir, mereka pasti akan tahu bagaimana nasibku akan ini setelah mereka melakukan hal tersebut. Tapi realitanya, mereka melenggang tak mau tahu.
Ah, biar Allah yang menilai.
Sampai di rumah, aku tak tenang memikirkan itu. Kamar adalah tempat yang baik untuk menumpahkan apa yang tadi ditahan. Setidaknya, dengan berbagi pengalaman disini, akan akan meninggalkan pelajaran yang bisa diambil hikmahnya oleh orang lain. Hal ini tidak akan menjadi begitu menyakitkan, setelah tahu bisa berbagi dengan orang lain untuk dijadikan pembelajaran.
Mungkin inilah sebab mengapa orang berkata bahwa saat mengalami masalah, kita sebaiknya bercerita agar perasaan kita tenang. Secara realistis, dengan bercerita bukanlah jalan yang pasti akurat untuk menyudahi masalah kita. Namun dengan berbagi cerita seperti ini, akan menjadi pembelajaran yang baik untuk orang lain tersebut. Mungkin itulah yang membuat masalah menjadi tidak terlalu perih untuk dijalani, yaitu dibalik masalah itu, ada pembelajaran yang berharga bukan hanya untuk yang mengalami masalah, namun juga orang yang tahu-menahu dengan masalah tersebut.
Menulis hal ini di blog ini bukan bermaksud untuk men judge teman-temanku itu salah. Bukan. Sekali lagi bukan. Aku juga sama sekali tak berharap mereka membaca ini, barang 1 kata pun. Aku sama sekali tak menginginkannya. Aku tak butuh itu. Aku juga tak tahu, kapan akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah menyakiti hati temannya, yang sudah dikirimi jarkom untuk patungan. Aku tak mengharapkan itu.
Yang penting adalah orang lain bisa mengambil pelajaran dari masalah ini. Bahwa jangan pernah mempermainkan perasaan orang lain.
Aku begitu semangat dan merelakan segalanya untuk bisa hadir, walau hanya ke acara resepsinya. Waktu itu, aku dapat informasi bahwa untuk hadiah pernikahan guruku itu, dibeli secara patungan. Kalau secara patungan, tentu hadiah itu atas nama bersama. Terutama yang disuruh patungan, yaitu seluruh anak kelas 8B. Aku dapat jarkoman itu berupa SMS. Lucunya, aku dapat 3 kali SMS yang sama. Well, oke oke.
Aku sudah bawa uang dengan nominal yang diinginkan. Aku juga berangkat bersama rombongan anak kelas 8B kecuali Asma, Dina, Salsa, dan Dea. Aku datang terlambat, karena aku kesulitan menentukan dress. Dari kejauhan, aku sudah melihat mereka yang menunggu sambil membawa plastik besar berisikan kado yang dibalut dengan bungkus kado yang manis.
Begitu dapat angkot, aku pun langsung menyerahkan uang patungan seperti yang disuruh. Kan nggak enak pake uang orang untuk nutupin hutang aku. Langsung deh aku tanya yang lain, ke siapa seharusnya aku bayar. Aku tanya Nurul, malah lempar ke yang lain. Daritadi lempar-lemparan aja. Akhirnya sampailah pada Alifa. Aku udah mau ngasih uangnya, tapi malah ditolak. Wah nih anak banyak uang kali ya, baik bener. Tapi aku tetep nggak enak, bagaimana pun juga itu adalah guru kesayanganku, harus ada pengorbanan. "Ih yang bener aja! Ini!" sambil menyerahkan uang. Tapi tetep aja ditolak. "Udah, uni nisa nggak usah kok". Akhirnya aku mengalah. Tapi hati berat juga. Aku mikir terus menerus, nggak enak.
Nggak lama setelah mereka mulai dengan sesi foto-foto di angkot, ada yang inisiatif fotoin kartu ucapan yang tertempel di kado yang ukurannya besar itu. Dengan penasaran, aku baca kartu itu. Kata-kata yang ditulis memang keren, tapi...
Parah.
Aku syok parah menyadari bahwa namaku nggak tercantum disitu. Gila, seketika aku mau nangis sejadi-jadinya. Kejam sangat. Parah parah parah. Gak nentu detak jantungku saat itu juga. Bener deh, bukannya bombastis, tapi saat itu juga organ aku nggak mengizinkan aku bicara. Mulut tuh kayak udah terkatup rapat, tenggorokan kayak kering, dan sepertinya tenagaku udah habis total dihisap entah kemana. Aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Parah. Speechless. Diem dan lemes banget. Sedangkan yang lain ketawa-ketawi sampai bapak-bapak dengan bringasnya negur mereka karena terlalu berisik.
Aku berusaha bersikap biasa saja, padahal sesungguhnya aku benar-benar mau memuntahkan segala amarahku seketika itu juga.
Sesampainya di lokasi, rombonganku menyerahkan kado besar yang istimewa itu kepada panitia. Kado yang di dalamnya tidak ada namaku. Tidak ada diriku, cintaku. Aku memandanginya kosong, menahan segala kemungkinan yang terjadi padaku. Menahan dan kemudian berbalik, sebagai pertanda aku harus mulai berusaha baik-baik saja.
Terkejut dan marah bukan main saat orang tuaku mengetahui bahwa uang yang aku bawa untuk patungan masih utuh karena alasan tersebut. Orang tuaku sama sekali tidak menyangka, begitu juga aku. Aku tak tahu bagaimana nantinya. Kalau dipikir, mereka pasti akan tahu bagaimana nasibku akan ini setelah mereka melakukan hal tersebut. Tapi realitanya, mereka melenggang tak mau tahu.
Ah, biar Allah yang menilai.
Sampai di rumah, aku tak tenang memikirkan itu. Kamar adalah tempat yang baik untuk menumpahkan apa yang tadi ditahan. Setidaknya, dengan berbagi pengalaman disini, akan akan meninggalkan pelajaran yang bisa diambil hikmahnya oleh orang lain. Hal ini tidak akan menjadi begitu menyakitkan, setelah tahu bisa berbagi dengan orang lain untuk dijadikan pembelajaran.
Mungkin inilah sebab mengapa orang berkata bahwa saat mengalami masalah, kita sebaiknya bercerita agar perasaan kita tenang. Secara realistis, dengan bercerita bukanlah jalan yang pasti akurat untuk menyudahi masalah kita. Namun dengan berbagi cerita seperti ini, akan menjadi pembelajaran yang baik untuk orang lain tersebut. Mungkin itulah yang membuat masalah menjadi tidak terlalu perih untuk dijalani, yaitu dibalik masalah itu, ada pembelajaran yang berharga bukan hanya untuk yang mengalami masalah, namun juga orang yang tahu-menahu dengan masalah tersebut.
Menulis hal ini di blog ini bukan bermaksud untuk men judge teman-temanku itu salah. Bukan. Sekali lagi bukan. Aku juga sama sekali tak berharap mereka membaca ini, barang 1 kata pun. Aku sama sekali tak menginginkannya. Aku tak butuh itu. Aku juga tak tahu, kapan akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah menyakiti hati temannya, yang sudah dikirimi jarkom untuk patungan. Aku tak mengharapkan itu.
Yang penting adalah orang lain bisa mengambil pelajaran dari masalah ini. Bahwa jangan pernah mempermainkan perasaan orang lain.
Idih Cantik-Cantik Kok Perusak
“Idih cantik-cantik kok nipu…”
Begitu celetukan di kereta yang saya temui hari ini. Ibu-ibu tengah menggosip sambil membaca Warta Kota yang mewartakan petualangan Selly Yustiawasi. Sudah banyak korban penipuan Selly yang melancarkan aksinya di dunia maya. Katanya dia berhasil menipu orang ratusan juta rupiah. Korbannya beragam mulai dari OB hingga pengusaha. Modusnya juga bervariasi mulai dari jualan pulsa hingga menyamar jadi wartawan. Selain cantik, Selly ini juga supel, cerdas dan pintar meluluhkan hati orang. Paket yang komplit lah.
Nah kembali ke celetukan ibu-bu tadi yang berseru : Idih cantik-cantik kok nipu…
Saya jadi nyengir dan pingin nyolot, emang cantik gak bisa jadi jahat? orang jahat itu selalu identik dengan buruk rupa?? Hadehhhh sebagai orang cantik eh jelek tersinggung dunks *ngekkkk*
Memang susah ya kalau mengikuti tatanan yang sudah terbentuk, bahwa orang cantik itu harus pintar, cantik itu harus putih, cantik itu harus kurus tinggi langsing, cantik itu harus baik hati. Jadi ketika ada yang cantik kemudian bertingkah aneh, orang langsung mengkorelasikan dengan tindakan dan fisiknya.
Ihh cantik-cantik kok penipu
Ihh cantik-cantik kok bodoh
Ihh cantik-cantik kok urakan
Ihh cantik-cantik suaminya kok jelek
Ihh cantik-cantik kok perusak rumah tangga orang
Bla dan Bla dan Bla…
Bandingkan jika kata cantik diubah menjadi jelek.
Ihh sudah jelek penipu pula
Ihh sudah jelek bodoh pula
Ihh sudah jelek urakan pulak
Ihh sudah jelek suaminya jelek
Ihh sudah jelek perusak rumah tangga orang pulak
Jika dirasakan, kedua perbandingan di atas ada pemakluman ketika seseorang berwajah jelek lalu berkorelasi dengan tindakan negatif, bahasa gampangnya adalah PANTESS SAJA WONG JELEK KOK.
Padahal berapa banyak penipu yang wajahnya cantik? Buanyakkk.
Padahal berapa banyak mereka yang cantik tetapi jahat? Buanyakk
Menjadi cantik, atau jelek itu adalah suatu hal yang sangat relatif. Mempunyai wajah yang pas-pasan bukanlah makhluk paling hina di dunia ini. Apalagi seiring dengan perkembangan teknologi, orang bisa menyulap wajahnya dalam hitungan hari. Mempelajari karakter seseorang gak hanya dilihat dari tampilan luar saja. Karena yang tampak itu kadang suka menipu. Kalau gak demikian maka Selly gak akan berhasil meraup uang ratusan juta rupiah dari hasil memoles tampilan luarnya untuk mendapatkan mangsa.
*habis ngaca di cermin*
Begitu celetukan di kereta yang saya temui hari ini. Ibu-ibu tengah menggosip sambil membaca Warta Kota yang mewartakan petualangan Selly Yustiawasi. Sudah banyak korban penipuan Selly yang melancarkan aksinya di dunia maya. Katanya dia berhasil menipu orang ratusan juta rupiah. Korbannya beragam mulai dari OB hingga pengusaha. Modusnya juga bervariasi mulai dari jualan pulsa hingga menyamar jadi wartawan. Selain cantik, Selly ini juga supel, cerdas dan pintar meluluhkan hati orang. Paket yang komplit lah.
Nah kembali ke celetukan ibu-bu tadi yang berseru : Idih cantik-cantik kok nipu…
Saya jadi nyengir dan pingin nyolot, emang cantik gak bisa jadi jahat? orang jahat itu selalu identik dengan buruk rupa?? Hadehhhh sebagai orang cantik eh jelek tersinggung dunks *ngekkkk*
Memang susah ya kalau mengikuti tatanan yang sudah terbentuk, bahwa orang cantik itu harus pintar, cantik itu harus putih, cantik itu harus kurus tinggi langsing, cantik itu harus baik hati. Jadi ketika ada yang cantik kemudian bertingkah aneh, orang langsung mengkorelasikan dengan tindakan dan fisiknya.
Ihh cantik-cantik kok penipu
Ihh cantik-cantik kok bodoh
Ihh cantik-cantik kok urakan
Ihh cantik-cantik suaminya kok jelek
Ihh cantik-cantik kok perusak rumah tangga orang
Bla dan Bla dan Bla…
Bandingkan jika kata cantik diubah menjadi jelek.
Ihh sudah jelek penipu pula
Ihh sudah jelek bodoh pula
Ihh sudah jelek urakan pulak
Ihh sudah jelek suaminya jelek
Ihh sudah jelek perusak rumah tangga orang pulak
Jika dirasakan, kedua perbandingan di atas ada pemakluman ketika seseorang berwajah jelek lalu berkorelasi dengan tindakan negatif, bahasa gampangnya adalah PANTESS SAJA WONG JELEK KOK.
Padahal berapa banyak penipu yang wajahnya cantik? Buanyakkk.
Padahal berapa banyak mereka yang cantik tetapi jahat? Buanyakk
Menjadi cantik, atau jelek itu adalah suatu hal yang sangat relatif. Mempunyai wajah yang pas-pasan bukanlah makhluk paling hina di dunia ini. Apalagi seiring dengan perkembangan teknologi, orang bisa menyulap wajahnya dalam hitungan hari. Mempelajari karakter seseorang gak hanya dilihat dari tampilan luar saja. Karena yang tampak itu kadang suka menipu. Kalau gak demikian maka Selly gak akan berhasil meraup uang ratusan juta rupiah dari hasil memoles tampilan luarnya untuk mendapatkan mangsa.
*habis ngaca di cermin*
Subscribe to:
Comments (Atom)